Ribet itu Istimewa
(Melan Kusumandari)
Terik
matahari yang menyinari pertiwi seakan mulai terhalang kumpalan mega. Panas
yang menyengat kulit sayup-sayup menjadi hawa dingin. Angin sepoi-sepoi seakan
menemani udara dalam setiap hembusan. Dan tiba tiba
Tttttttteeeeeeeeeeeeeeeettttttttt..teeeeeeeeeettttttttt.tttteeeeeeeeeeeeeetttttttttt……
Bel
pulang sekolah telah berbunyi. Ini berarti bahwa seluruh siswa SMA Nusa Bangsa
boleh bergegas meninggalkan bangunan tiga tingkat nan megah. Hal ini juga
berlaku untuk aku dan teman-temanku.
“Din,
Mel, Sit, Lang ini ada undangan sweet seventeen ku. Kalian jangan lupa datang
ya. Perayaannya tinggal seminggu lagi. Datang ya….” Kata Putri sambil
memberikan undangan pada kami.
“siap
86 dah…:jawab kami kompak.
Setelah menerima undangan itu, tak
seperti biasanya yang selalu nongkrok di warung Yu Jah, waktu itu kita langsung
pulang ke rumah masing-masing. Mungkin ini efek dari kuis Matematika yang rumit
plus gak bisa ngerjain. Gimana gak pusing coba, kuisnya aja di buat dadadakan
ditambah soalnya berjubel banyak dan sulit, plus aku, Dina, Sita, dan Galang
semalam gak belajar gara-gara nonton film DVD bersama. Arrrggghh pokoknya bikin
pusing tujuh keliling dah.